Minggu, 18 Maret 2012

Tugas psikologi edisi maret 2012


Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Jadi Persepsi adalah proses yang dilakukan dalam mengelola dan menafsirkan kesan indra mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka, meskipun demikian apa yang di persepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan.
maksudnya bahwa suatu tindakan persepsi mensyaratkan kehadiran obyek eksternal untuk dapat ditangkap oleh indera. Dalam hal perspektif terhadap diri pribadi. Kehadirannya sebagai obyek eksternal mungkin kurang nyata tetapi keberadaannya jelas dapat dirasakan. Selain itu persepsi juga timbul karena adanya informasi untuk diinterpretasikan. Informasi yang dimaksud ini adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui sensasi atau indera.
Seseorang yang telah termotivasi akan siap untuk bertindak dan tindakan yang dilakukan oleh seseorang itu dipengaruhi oleh persepsi.
Dari definisi di atas, persepsi dapat di jelaskan sebagai proses dimana seorang individu memilih. Mengatur dan memberikan arti pada rangsangan yang diterimanya menjadi suatu gambaran dunia yang berarti dan menyatu.
Bahwa persepsi itu terdiri dari dua faktor :
1. Faktor stimulus
    Merupakan sifat fisik suatu obyek, seperti ukuran produk, warna, dan kemasan
2. Faktor individual
Merupakan sifat individu yang tidak hanya meliputi proses sensorik tetapi pengalaman di waktu    lampau pada hala yang sama. Maksudnya dalam keadaan yang sama. Persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda dengan persepsi orang lain. Hal yang sama. Persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda dengan persepsi orang lain. Hal ini disebabkan oleh adanya proses seleksi dari begitu banyak stimulus yang ada.       
  Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972).
Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas. Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan (Fleming & Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).

NB : sumber modul pratikum AKOM BSI margonda.

Jumat, 09 Maret 2012

Tugas Psikologi


Nama : Kurniawan Effendi
Npm : 06.10.000.034

TEORI PSIKOANALISIS

Melukiskan manusia sebagai
mahluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam
(Homo Volens).
Perilaku atau kepribadian manusia merupakan hasil
interaksi Id (komponen biologis / animal), Ego (komponen
psikologis / rasional), dan Superego (komponen sosial /
moral).
 Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan - dorongan
biologis manusia seperti makan, minum,
berhubungan sex, kasih sayang, dll yang bermuara pada
pencapaian kesenangan (pleasure principle) ® tidak peduli
orang lain dan lingkungan serta tidak mau tahu dengan
kenyataan hidup, yang penting nafsu biologis terpenuhi
(egoistis + tak bermoral). Id merupakan tabiat hewani manusia.
 Id hanya
dapat menghasilkan berbagai keinginan, tapi tidak dapat
memenuhinya.
Dalam Id ada 2 (dua) instink dominan :
- Libido
- Thanatos
Semua motivasi manusia adalah gabungan antara Eros dan
Thanatos. Ego, berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas
di dunia luar (reality principle). Ego merupakan mediator
antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan
realistik.

Contoh : Id ® mendesak anda untuk mencaci maki
atasan / bos yang bersikap tidak adil dan
mau menang sendiri.
Ego ® mengingatkan anda bahwa ia adalah Bos
yang dapat dengan mudah memecat anda.
Kalau anda tetap mencaci maki bos anda,
itu sama saja anda bunuh diri.
Superego, berperan sebagai polisi kepribadian, hati nurani
yang berupaya mewujudkan keinginan-keinginan ideal kita
yaitu norma-norma sosial dan kultural masyarakat kita.
Kalau Id hanya dapat menghasilkan keinginan-keinginan,
egolah yang berperan memenuhinya.
Contoh : Id ® keinginan punya uang banyak, harta
berlimpah, pacar cantik, dll.
Ego ® korupsi, pergi ke dukun, dll.
Superego ® Jangan, tidak boleh! Itu melanggar nilai sosial dan kultural
Ego menjadi bingung, boleh atau tidak korupsi
dilakukan.

TEORI BEHAVIORISME

Berbeda dengan Psikoanalisis yang melihat perilaku
manusia muncul dari keinginan-keinginan bawah sadar, maka
Behaviorisme menganalisis perilaku manusia hanya
berdasarkan perilaku yang nampak dan dapat diukur.
Behaviorisme percaya bahwa perilaku manusia
merupakan hasil dari proses belajar (learning process).
Manusia belajar dari lingkungannya sehingga segala
perilakunya dipengaruhi faktor- faktor lingkungan ®
Manusia mesin (Homo Mechanicus).
Manusia lahir tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis, dan
akan mudah dibentuk menjadi apapun selagi ada lingkungan
yang tepat dan cocok untuk mengubah perilakunya
Bandura menyatakan dalam melakukan perilaku tertentu
manusia memerlukan peneguhan (reinforcement),
sedangkan kemampuan untuk melakukan suatu tindakan
akan ditentukan oleh peniruan (imitation) dalam suatu proses
belajar sosial (social learning).

Contoh : bila seorang anak berkata yang sopan, orangtuanya
akan senang dan memuji sehingga si anak juga ikut senang.
Kelak dihari-hari mendatang anak itu akan mencintai kata-kata
yang sopan dalam komunikasinya.

TEORI PSIKOLOGI HUMANISTIK

Tiga teori terdahulu belum berhasil mengungkap
manusia secara keseluruhan. Kita memang sering
dipengaruhi oleh lingkungan seperti kata Behaviorisme,
namun kita juga mampu bertindak berbeda dengan
lingkungan.
Kita juga sering menunjukan naluri primitif yang
hewani seperti kata Psikoanalisis, namun pada saat yang
sama kita juga punya rasa peduli, kasih sayang terhadap
sesama manusia.
Kita bisa saja sibuk berpikir seperti kata Psikologi Kognitif,
namun pada saat yang sama juga ingin mengetahui dan
diakui eksistensi diri kita serta apa yang paling kita
dambakan dalam hidup ini.
Psikologi Humanistik memandang manusia sebagai
Manusia Bermain (Homo Ludens).

Tiap manusia memiliki pengalaman pribadi yang unik. Tidak
ada satu manusiapun yang memiliki pengalaman sama.
Antar pribadi yang memiliki pengalaman unik inilah kita
berinteraksi dalam kehidupan sosial (intersubjectivity).
Manusia bukan hanya mencari identitas, tapi juga berupaya
mencari makna (makna kehidupannya, kehadirannya di
lingkungan, serta apa yang diberikannya kepada
lingkungan).

Psikologi Humanistik bertumpu pada 3 dasar pijakan, yaitu :
1. Keunikan Manusia
2. Pentingnya nilai dan makna
3. Kemampuan manusia untuk mengembangkan diri.

NB : sumber nya dari modul rangkuman bsi 2006



  Tokoh nya coy : Sigmund Freud.